Partai besar akan tersaji dalam lanjutan grup A Liga Champions 2021/2022. Paris Saint Germain sebagai tuan rumah akan menjamu tim tamu dari daratan Inggris, Manchester City, pada Rabu, (29/9/2021) dini hari. Duel dua tim papan atas Eropa ini bukan hanya soal skuat mahal yang mereka miliki, ataupun reuninya Lionel Messi dan Pep Guardiola.

Tetapi lebih menarik, yaitu cara kedua tim bermain dan potensi terciptanya banyak gol. Paris Saint Germain dan Manchester City musim ini sama sama sedang berada dalam tren positif di Liga Domestik. Mereka berada di papan atas klasemen, sekaligus menjadi tim yang rajin membantai lawan lawannya.

Saat ini, PSG berada di puncak klasemen Liga Prancis dengan raihan 24 poin, unggul sembilan poin dari pesaing terdekatnya, Lens. Tim asuhan Pochettino tersebut juga menjadi tim paling produktif dengan torehan 22 gol. Sedangkan The Citizens, juga tak kalah menterengnya dengan PSG.

Saat ini, mereka berada di peringkat kedua Liga Inggris dengan raihan 13 poin, tim asuhan Pep Guardiola itu hanya tertinggal 1 angka dari sang pemuncak klasemen, Liverpool. City tercatat dua kali pernah membantai lawannya di Liga Inggris, secara dua laga beruntun mereka berhasil menang dengan skor mencolok 5 0 saat melawan Norwich City dan Arsenal. Dari sisi permainan, kedua tim diperkirakan bakal tampil menyerang.

Jika tuan rumah didukung oleh para pemain top seperti Neymar Jr, Lionel Messi, dan Kylian Mbappe. Maka City bakal mengandalkan ketahanan fisik dan konsistensi dalam hal organisasi permainan. "Mereka pemain yang luar biasa (Trio PSG), semua orang tahu itu. Secara individu, mereka luar biasa, mereka bisa bergabung dan terhubung satu sama lain," kata Pep saat konferensi pers.

"Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau, bermain melebar, satu di kanan, dan satu di kiri, mereka dapat terkoneksi dengan bagus sekaligus memiliki kualitas." "Bakat individu tidak bisa menghentikan mereka, kami harus melakukannya sebagai sebuah tim. Kami harus kompak, bersama sama, dan saling membantu," lanjut pelatih asal Spanyol itu. Les Parisiens sudah jelas akan bermain agresif dengan mengandalkan trio lini depan mereka yang kualitasnya tak perlu dipertanyaankan lagi.

PSG kemungkinan akan menerapkan formasi 4 3 3, dengan mengandalkan tiro lini depan mereka. Neymar akan fokus bergerak di sisi kiri untuk mengeksploitasi pertahanan City yang dijaga oleh Kyle Walker, sedangkan Mbappe berada di tengah sebagai ujung tombak. Sedangkan Lionel Messi akan banyak berada di tengah sebagai penyerang lubang dan pengatur tempo serangan PSG.

Messi memang belum menyumbang gol ataupun assist untuk Les Parisiens, namun itu hanya masalah waktu. Messi bisa kapan saja bermain impresif dan mencetak banyak gol, ia bukanlah pemain yang harus diragukan kualitasnya. Apalagi di kompetisi sebesar Liga Champions dan melawan tim sementereng Manchester City.

Saat masih berkostum Barcelona, La Pulga sukses menuai lima kemenangan dan cuma kalah satu kali dari enam pertemuan dengan The Citizens. Penampilan paling mencolok Messi terjadi saat penyisihan grup Liga Champions 2016/2017. Kala itu, La Pulga tampil ganas lewat torehan hattrick dan satu assist untuk membantu Barca mebantai The Citizens asuhan Pep Guardiola dengan skor empat gol tanpa balas di Camp Nou.

Di lain sisi, PSG tak cuma akan mengandalkan trio lini depan mereka, gelandang Les Parisien, Ander Herrera berada di top perform musim ini. Sebagai gelandang box to box, pemain asal Spanyol itu mampu menjadi jendral lapangan tengah dengan bermain menyerang dan bertahan dengan sama baiknya. Pass completion Herrera mencapai 90.1%, tertinggi diantara gelandang PSG lainnya. Tak hanya itu, Herrera mampu bertahan dengan baik dengan catatan tackles 2.53 dan blocks 2.37.

Mantan pemain Manchester United itu juga mampu tampil imresif saat menyerang dengan telah menyumbangkan 4 gol 2 assist dari 9 pertandingan bersama PSG musim ini. Di lini tengah, Herrera akan dibantu Wijnaldum dan Leandro Paredes untuk mematikan lini tengah City yang dipimpin oleh Kevin De Bruyne. Jika mampu menekan lini tengah City, Les Parisiens bisa melancarkan serangan balik yang cepat.

Untuk melakukan progresi serangan, PSG dapat memanfaatkan kemampuan Herrera dan Wijnaldum dalam mengirim umpan panjang. Saat memasuki area pertahanan City, Les Parisiens punya Neymar, Mbappe, dan Messi, yang punya kecepatan. Ketiga pemain itu sudah dipastikan akan membuat lini belakang City kelimpungan. Musim ini, skuat Guardiola masih memiliki persoalan dalam menahan serangan balik yang cepat.

Laga perdana di Liga Champions The Citizens saat melawan RB Leipzig jadi buktinya. Meski mampu menang, City harus rela gawangnya dibobol 3 kali lewat serangan balik cepat Leipzig, saat itu, sisi kanan pertahahan City yang dijaga oleh Cancelo mampu diekspolitasi oleh Dani Olmo dan Forsberg. City punya kans besar menang dalam laga tersebut. Apalagi, kepercayaan diri skuat asuhan Pep Guardiola ini sedang tinggi tingginya.

Mereka sukses mengalahkan Chelsea di Stamford Bridge dengan skor 1 0, sekaligus mampu menepis catatan buruk Pep yang sebelumnya selalu kalah melawan skuat Thomas Tuchel itu. Guardiola telah menemukan ramuan terbaiknya untuk membuat City mampu menjadi tim kuat walaupun bermain tanpa striker murni. Yaitu, memanfaatkan Jesus dari sisi kanan. Intuisi Jesus sebagai penyerang sayap sangat tajam. Pemain berkebangsaan Brasil itu tahu kapan harus berlari ke ruang kosong atau mendekati pemain yang menguasai bola ketika menyerang.

Peran Jesus disisi kanan juga mampu ditopang oleh bek kanan City, Kyle Walker. Walker tahu kapan harus menyodorkan terobosan, demikian juga Jesus, ia pintar mengatur momentum untuk berlari meminta bola panjang atau bola pendek. Jika City menyerang dari sisi kiri, Jesus akan bergerak mencari ruang kosong dari lini kedua.

Ia tidak ikut berduel saat umpan silang disodorkan. Ia justru bersiap siap mengambil bola muntah. Penampilan impresif Jesus juga dibantu oleh Bernardo Silva yang bermain sebagai gelandang. Pergerakan tanpa bola Bernardo mampu menciptakan ruang yang bisa dimanfaatkan Jesus untuk menyodorkan bola, ataupun melakukan dribble.

Umpan umpan diagonal Rodri dari tengah lapangan turut melayani Jesus. Kerjasama Jesus, Walker dan Bernardo menjadi sangat krusial dalam serangan sisi kanan The Citizens, untuk menerobos pertahanan PSG yang terkenal rapuh dari sisi kiri. Pochettino masih menimbang nimbang, siapakah pemain reguler PSG untuk mengisi pos di bek kiri.

Abdou Diallo yang musim lalu sering diandalkan, justru tampil menurun musim ini, terhitung pemain 25 tahun tersebut telah melakukan blunder dua kali bersama PSG musim ini. Bek kiri PSG lainnya, Layvin Kurzawa pun juga tidak bisa diandalkan, ia sering tertinggal saat mendapatkan serangan balik dari lawan. Selain sisi kanan, Pep juga memiliki senjata di lini tengah The Citizens.

Menurut Guardiola, Raheem Sterling dan Ferran Torres bisa menjadi pilihan. Khususnya Ferran Torres, menurut Guardiola, ia punya kepekaan luar biasa dalam urusan mencetak gol. Keistimewaan Torres adalah keserbabisaannya. Ia merupakan pemain yang bisa menyerap apa yang Guardiola mau. Musim ini, Guardiola mengadalkan pemain asal Spanyol tersebut sebagai penyelesai akhir serangan City.

Ferran Torres yang tak dimainkan saat melawan Chelsea diprediksi akan menjadi andalan lini depan City saat mereka bersua PSG di Liga Champions. Dari 7 pertandingan, pemain berusia 21 tahun tersebut sukses mencetak 3 gol dan 1 assist untuk The Citizens. Manchester City kemungkinan akan menerapkan skema 4 3 3. Saat menyerang, skuat asuhan Pep Guardiola tersebut memakai skema 2 3 5 atau 3 2 5.

Saat City membangun serangan, Cancelo akan naik ke tengah untuk berdiri sejajar bersama Rodri, lalu posisinya di bek kiri diisi oleh salah satu bek tengah The Citizens. Dalam skema tersebut, dengan kontrol bola dan teknik yang dimiliki Cancelo, ia dapat membuat lini tengah City lebih hidup dan variatif. Pergerakan Cancelo ke tengah juga membuat The Citizens unggul jumlah pemain di tengah pada fase awal serangan. Bernardo Silva dan De Bruyne sebagai gelandang bisa naik ke area yang tinggi.

Rodri dan Cancelo mengisi lini tengah untuk membangun serangan dari bawah. De Bruyne lebih dibutuhkan di fase akhir serangan dengan kemampuannya dalam mengirim umpan. Taktik Pep ini dapat memecahkan masalah City yang tidak memiliki striker murni, pemain sayap dan gelandang The Citizens mampu bergerak leluasa di area kotak pinalti lawan untuk mencetak gol.

RELATED ARTICLES

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *